Catatan ilmu bumi & komputasi

Membaca bumi
lewat gelombang.

Bagaimana kecerdasan buatan membantu peneliti memahami rekaman gempa, mengenali pola, dan mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Dari seismogram mentah sampai proposal tesis untuk jaringan seismik BMKG.

COMPUTER VISION · SEISMOLOGI · EXPLAINABLE AI · TRANSFER LEARNING

CONTOH POLA KEDATANGAN GELOMBANG UTARA-SELATAN VERTIKAL TIMUR-BARAT WAKTU → P S ILUSTRASI SINTETIS · BUKAN DATA OBSERVASI
FIG. 01Satu rekaman, tiga komponen, banyak petunjuk. Gelombang P tiba lebih dulu, disusul S.

Tentang blog ini

Bumi terus berbicara. Tugas kita adalah belajar mendengarkan dengan teliti.

Ruang belajar untuk menerjemahkan konsep teknis menjadi penjelasan yang jernih tanpa menghilangkan kedalaman ilmiahnya.

Mulai dari sini

Tiga pintu masuk,
satu rasa ingin tahu.

Setiap topik punya tab sendiri. Pilih yang ingin dibaca lebih dulu.

“
Model yang baik bukan hanya memberi jawaban. Ia juga membantu kita memeriksa mengapa jawaban itu masuk akal.

PRINSIP EDITORIAL

Halaman profil

Tentang Saya.

Kenali orang di balik catatan ini, minat belajarnya, dan pertanyaan yang sedang ia telusuri.

Salam kenal

Teknologi paling menarik saat ia membantu kita melihat lebih jelas.

Halo, saya Slamet Wijaya, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika S-2 di Universitas Pamulang. Halaman ini menjadi ruang untuk mendokumentasikan proses belajar saya tentang computer vision dan penerapannya dalam seismologi.

Saya tertarik pada bagaimana komputer dapat menemukan pola dalam data yang terlalu besar atau rumit untuk diperiksa satu per satu. Dalam seismologi, pola itu hadir sebagai getaran tanah yang direkam terus-menerus oleh stasiun seismik. Dari rekaman tersebut, peneliti berusaha mengenali kedatangan gelombang, membedakan gempa dari derau, dan memahami karakter sumbernya.

“Belajar membaca sinyal adalah belajar menghargai detail yang sering luput dari pandangan.”

Melalui blog ini saya ingin membahas riset-riset tersebut dengan bahasa yang mudah diikuti, tetapi tetap menyebut metode, bukti, keterbatasan, dan sumber aslinya. Penjelasan yang baik tidak menyederhanakan sains secara berlebihan; ia memberi pembaca pijakan untuk bertanya lebih jauh.

Yang sedang saya pelajari

01

Model AI untuk seismogram

Phase picking, deteksi gempa, dan denoising dengan jaringan saraf.

02

Explainable AI

Cara menguji mengapa model memberi prediksi tertentu, bukan sekadar menerimanya.

03

Generalisasi lintas wilayah

Apakah model dari satu wilayah tetap andal di wilayah lain, misalnya di Indonesia.

Proyek utama saat ini

Proposal tesis

Evaluasi transportabilitas dan transfer learning model DeepDenoiser untuk mitigasi noise pada jaringan seismik BMKG.

Baca ringkasan proposal →  ·  Latar belakang riset →

Cara saya menulis

  1. 01
    Mulai dari pertanyaan

    Setiap catatan dimulai dari masalah nyata yang ingin dipecahkan, bukan dari istilah teknis.

  2. 02
    Sebut bukti dan batasnya

    Hasil riset ditulis bersama konteks datasetnya, supaya tidak berlebihan menggeneralisasi.

  3. 03
    Cantumkan sumber asli

    Pembaca selalu bisa menelusuri paper yang dirujuk.

Esai riset · 16 menit membaca

Computer Vision
in Seismology

Cara kerja computer vision pada rekaman gempa, mengapa seismogram bisa diperlakukan seperti gambar, dan apa saja yang sudah dikerjakan dengannya: deteksi, picking, denoising, sampai estimasi parameter gempa.

Seismolog selama puluhan tahun membaca rekaman gempa dengan mata: mencari bentuk, pola, dan perubahan mendadak pada garis gelombang. Computer vision mengajarkan mesin melakukan hal yang sama. Seismogram memang bukan foto, tetapi ia kaya struktur lokal seperti tepi, tekstur, dan pola berulang, tepat jenis hal yang dikuasai jaringan konvolusional.

01Gagasan dasar: mengapa visi komputer cocok untuk seismogram

Computer vision adalah cabang AI yang belajar mengenali pola visual: apakah ini kucing, di mana batas jalan, bagian mana yang noise. Tiga sifat gambar membuatnya relevan untuk seismologi:

STRUKTUR LOKAL

Tepi & onset

Pada gambar, tepi objek menandai batas. Pada seismogram, kedatangan gelombang P adalah “tepi” saat amplitudo mendadak berubah.

TEKSTUR

Pola frekuensi

Gempa, derau lalu lintas, dan ombak punya “tekstur” berbeda pada spektrogram, seperti kain berbeda motif.

PERGESERAN

Tak peduli posisi

Kucing tetap kucing di sudut mana pun. Gempa tetap gempa di menit berapa pun. Konvolusi memang dirancang untuk sifat ini.

SUMBER GEMPA STASIUN SEISMIK GELOMBANG P · CEPAT GELOMBANG S · LAMBAT ILUSTRASI SKEMATIK · TIDAK BERSKALA
GAMBAR 1Gelombang P dan S berangkat bersamaan tetapi tiba pada waktu berbeda. Tugas pembaca (manusia atau model) adalah menemukan kedua “tepi” itu pada rekaman.

Gagasan utama

Model tidak “melihat gempa” secara ajaib. Ia belajar hubungan statistik antara contoh rekaman berlabel dan keluaran yang diharapkan.

02Tiga cara “melihat” data seismik

Istilah computer vision pada seismologi punya dua tafsir: memperlakukan data sebagai gambar, atau memakai arsitektur yang lahir dari visi komputer (CNN, U-Net, Transformer) pada deret waktu. Keduanya dipakai.

A · WAVEFORM (1D, deret waktu)B · SPEKTROGRAM (2D, seperti gambar) PSPS sumbu: waktu → amplitudosumbu: waktu → frekuensi (terang = energi tinggi)Data sintetis untuk ilustrasi; garis putus menandai waktu tiba yang sama pada kedua panel.
GAMBAR 2Isi rekaman sama, bentuk penyajiannya berbeda. Spektrogram diperoleh dengan STFT, sehingga seismogram menjadi gambar untuk CNN 2D.
A · DERET WAKTU 1D

Waveform langsung

Tiga kanal Z, N, E sebagai urutan angka. Dipakai PhaseNet dan EQTransformer dengan konvolusi 1D. Paling umum untuk deteksi dan picking.

B · CITRA 2D

Spektrogram

STFT mengubah sinyal menjadi gambar waktu-frekuensi, lalu diproses konvolusi 2D seperti pada foto. Dipakai DeepDenoiser.

C · GAMBAR SUNGGUHAN

Citra & array

Penampang seismik, array padat, dan DAS (distributed acoustic sensing) yang menghasilkan ribuan kanal berdekatan sehingga benar-benar berbentuk gambar.

03Bagaimana CNN membaca seismogram

Jaringan konvolusional (CNN) memeriksa sinyal dengan filter kecil yang digeser di sepanjang rekaman, seperti senter kecil yang menyisir sebuah lorong panjang. Setiap filter peka terhadap satu pola, misalnya “naik tajam mendadak”. Hasilnya adalah peta fitur: seberapa kuat pola itu muncul di tiap waktu.

1 · REKAMAN MASUK filter (jendela kecil) bergeser sepanjang rekaman → 2 · PETA FITUR: “ADA ONSET MENDADAK DI SINI?” PS Lapisan lebih dalam menggabungkan fitur sederhana (tepi) menjadi pola kompleks (P, S, bentuk gempa).
GAMBAR 3Satu filter menghasilkan satu peta fitur. Jaringan memiliki puluhan sampai ratusan filter yang dipelajari dari data, bukan dirancang manual.
  1. 01
    Konvolusi

    Filter menyisir sinyal dan menandai bagian yang cocok dengan polanya.

  2. 02
    Pooling / down-sampling

    Resolusi waktu diperkecil sehingga model melihat konteks lebih luas (medan pandang, receptive field, membesar).

  3. 03
    Lapisan dalam

    Fitur sederhana digabung menjadi pola kompleks: “ada P, lalu S sekitar 8 detik kemudian”.

  4. 04
    Decoder & skip connection (U-Net)

    Resolusi dipulihkan, dan detail halus dari awal jaringan disalin agar waktu tiba tidak kabur.

  5. 05
    Keluaran

    Label, probabilitas per titik waktu, atau mask, tergantung tugasnya.

Arsitektur U-Net (Ronneberger dkk., 2015) awalnya dibuat untuk segmentasi citra biomedis, tetapi bentuknya sangat cocok untuk seismologi: ia memberi keluaran untuk setiap titik masukan.

04Peta tugas: dari visi komputer ke seismologi

Banyak masalah seismologi punya kembaran di dunia visi komputer. Itulah mengapa metode yang sudah matang dapat dipinjam.

TUGAS DI COMPUTER VISIONPADANANNYA DI SEISMOLOGI

Klasifikasi citra

“Gambar ini berisi apa?”

→

Deteksi & klasifikasi peristiwa

“Jendela ini gempa, derau, atau ledakan?”

Segmentasi semantik

Label per piksel.

→

Phase picking

Label per titik waktu: P, S, atau derau (PhaseNet).

Restorasi / denoising citra

Membersihkan foto berderau.

→

Denoising seismogram

Memisahkan sinyal gempa dari derau (DeepDenoiser).

Regresi dari citra

Memperkirakan nilai (usia, jarak).

→

Estimasi parameter

Magnitudo, jarak episentral, back-azimuth (SeisT).

Model pralatih & fine-tuning

Mulai dari model ImageNet.

→

Transfer learning antarjaringan

Mulai dari model global, setel dengan data lokal.

Augmentasi gambar

Putar, potong, tambah derau.

→

Augmentasi sinyal

Geser jendela, tambah derau, hilangkan kanal.

05Penerapan 1: mendeteksi gempa

Masalah. Stasiun merekam tanpa henti. Dari ribuan jam rekaman, mana yang berisi gempa? Algoritma klasik seperti STA/LTA membandingkan energi jangka pendek dengan jangka panjang, tetapi mudah terpicu oleh derau dan cenderung melewatkan gempa kecil.

Pendekatan CNN. Rekaman dipotong menjadi jendela, dan CNN mengklasifikasikan tiap jendela. ConvNetQuake (Perol dkk., 2018) memakai CNN pada waveform untuk mendeteksi dan menglokalisasi gempa secara kasar di Oklahoma. Ross dkk. (2018) melatih CNN untuk mengklasifikasikan fase P, fase S, dan derau pada data Southern California.

Mengapa membantu. Model dapat belajar bentuk gempa kecil yang halus, sehingga katalog menjadi lebih lengkap. Katalog yang lebih lengkap membantu memahami aktivitas sesar dan swarm.

06Penerapan 2: phase picking sebagai segmentasi

Masalah. Lokasi gempa dihitung dari selisih waktu tiba P dan S di banyak stasiun, sehingga kesalahan picking langsung menjadi kesalahan lokasi. Picking manual lambat dan bervariasi antaranalis.

Pendekatan. PhaseNet (Zhu & Beroza, 2019) memperlakukan picking seperti segmentasi gambar: U-Net menerima tiga komponen dan memberi tiga kurva, yaitu probabilitas P, S, dan derau di setiap titik waktu. Puncak kurva menjadi waktu tiba.

REKAMAN KELUARAN MODEL: PROBABILITAS PER TITIK WAKTU PS 01Puncak kurva = perkiraan waktu tibaIlustrasi sintetis; bentuk kurva disederhanakan. Garis putus: waktu tiba pada rekaman.
GAMBAR 4Analogi segmentasi gambar: alih-alih memberi label pada piksel, model memberi “peluang” pada setiap titik waktu.

EQTransformer (Mousavi dkk., 2020) memperluas ide ini dengan mekanisme attention dan menggabungkan deteksi dengan picking dalam satu model. Benchmark SeisBench dan studi Münchmeyer dkk. (2022) membandingkan banyak model pada beragam dataset, dan menunjukkan bahwa performa tergantung kuat pada kecocokan data latih dengan data target.

07Penerapan 3: denoising, dari foto berderau ke seismogram bersih

Pada citra, denoising membersihkan foto yang berbintik. Pada seismologi, tujuannya serupa: memisahkan sinyal gempa dari derau lalu lintas, ombak, atau angin. DeepDenoiser (Zhu dkk., 2019) menjalankan ini di bidang spektrogram.

Jaringan belajar memberi nilai 0 sampai 1 pada setiap piksel, yaitu seberapa besar piksel itu milik sinyal. Nilai ini disebut mask. Mengalikan mask dengan spektrogram berderau menghasilkan spektrogram bersih, lalu ISTFT mengembalikannya menjadi waveform.

1 · SPEKTROGRAM BERDERAU2 · MASK SINYAL (0–1)3 · SINYAL × MASK × mask= Waktu →Sumbu vertikal: frekuensi (rendah di bawah)Nilai mendekati 1 = piksel milik sinyalDerau tertekan, onset P dan S tetap tampakData sintetis untuk ilustrasi konsep; intensitas lebih terang = energi lebih tinggi.
GAMBAR 5Derau memenuhi seluruh gambar, mask menandai bagian milik sinyal, dan hasil perkalian menyisakan sinyal.

Coba sendiri: mengapa derau mempersulit picking

Geser tingkat derau dan lihat bagaimana onset P (garis putus) makin sulit ditentukan. Ini simulasi konsep, bukan keluaran model.

PS
SNR ≈ -

Dibanding filter bandpass biasa yang hanya membuang rentang frekuensi, pendekatan mask bekerja per piksel waktu-frekuensi sehingga dapat memilah sinyal dan derau yang tumpang-tindih, asalkan model dilatih pada derau yang mirip lingkungan target. Studi Yang dkk. (2022) menunjukkan manfaat denoising untuk pemantauan gempa di lingkungan perkotaan yang bising.

08Penerapan lain: dari magnitudo sampai fiber optik

ESTIMASI PARAMETER

Magnitudo, jarak, arah

SeisT dan model sejenis memakai satu tulang punggung untuk memperkirakan magnitudo, jarak episentral, back-azimuth, dan polaritas.

ASOSIASI & LOKASI

Menyatukan pick lintas stasiun

Hasil picking dari banyak stasiun harus dikelompokkan menjadi kejadian yang sama sebelum lokasi dihitung. Kualitas pick yang baik mempermudah langkah ini.

DAS & ARRAY

Serat optik sebagai seismometer

DAS menghasilkan rekaman ribuan kanal yang tampak seperti gambar waktu-jarak, sangat alami untuk CNN dan segmentasi.

VULKANO & INDUKSI

Sinyal non-tektonik

Model juga dipakai pada seismisitas gunung api dan gempa terinduksi. Transfer learning terbukti membantu saat data lokal sedikit.

Konteks Indonesia

Jaringan padat dengan derau beragam (kota, laut, tanah lunak) menjadikan Indonesia uji yang menarik bagi denoising dan transfer learning. Lihat tab Thesis Proposal untuk rencana riset saya.

09Garis waktu riset terkini

Berikut tonggak yang mewakili evolusi metode, bukan peringkat mutlak seluruh literatur.

2015–2018 · FONDASI

U-Net, ConvNetQuake, dan deteksi fase umum

U-Net lahir dari segmentasi citra. Perol dkk. dan Ross dkk. menunjukkan CNN dapat belajar langsung dari waveform untuk deteksi dan klasifikasi fase.

CNNDeteksi

Ronneberger et al. U-Net ↗ · Perol et al., Science Advances (2018) ↗ · Ross et al., BSSA (2018) ↗

2019 · PICKING

PhaseNet: probabilitas P, S, dan derau per titik waktu

U-Net yang memetakan waveform tiga komponen menjadi tiga kurva probabilitas. Mempercepat dan menyeragamkan picking, termasuk fase S yang lebih sulit.

Catatan kritis: kualitas label dan perbedaan wilayah tetap memengaruhi hasil.

Zhu & Beroza, Geophysical Journal International (2019) ↗
2019 · DENOISING

DeepDenoiser: memisahkan sinyal dan derau

Denoising dirumuskan sebagai pemisahan sumber pada spektrogram. U-Net memprediksi dua mask, satu untuk sinyal dan satu untuk derau.

Zhu et al., IEEE TGRS (2019) ↗ · arXiv:1811.02695 ↗
2019 · DATASET

STEAD: dataset global berlabel

Dataset besar rekaman gempa dan derau yang menjadi bahan latih banyak model. Kelemahannya, sebaran wilayahnya tidak merata sehingga wilayah tertentu kurang terwakili.

Mousavi et al., IEEE Access (2019) ↗ · GitHub STEAD ↗
2020 · DETEKSI + PICKING

EQTransformer: beberapa tugas dalam satu alur

Model berbasis attention yang sekaligus menilai ada tidaknya gempa dan kapan fase P/S tiba.

Catatan kritis: evaluasi utama memakai data Southern California; hasilnya tidak otomatis berlaku pada jaringan lain.

Mousavi et al., Nature Communications (2020) ↗
2020–2021 · TRANSFER LEARNING

Model dipindahkan ke skala dan wilayah baru

Chai dkk. memanfaatkan transfer learning agar picker dapat menjembatani skala berbeda, sedangkan Lapins dkk. menunjukkan sedikit data lokal dapat cukup untuk menyetel picker pada gunung api Nabro.

Transfer learningData sedikit

Chai et al., GRL (2020) ↗ · Lapins et al., JGR (2021) ↗

2021–2022 · TRANSPORTABILITAS

Model bagus di satu tempat belum tentu bagus di tempat lain

Tibi dkk. menguji denoising deep learning pada data regional di Utah, dan Münchmeyer dkk. membandingkan berbagai picker pada beragam dataset. Yang dkk. menunjukkan denoising yang disesuaikan untuk lingkungan kota membantu pemantauan gempa.

Tibi et al., BSSA (2021) ↗ · Münchmeyer et al., JGR (2022) ↗ · Yang et al., Science Advances (2022) ↗

2022 · ALAT & ULASAN

SeisBench dan ulasan “Deep-learning seismology”

SeisBench menyediakan perangkat terbuka untuk membangun dan membandingkan model. Mousavi dan Beroza menulis tinjauan di Science yang merangkum capaian dan tantangan bidang ini.

Woollam et al., SRL (2022) ↗ · Mousavi & Beroza, Science (2022) ↗
2024 · MODEL FONDASI

SeisT: satu representasi untuk banyak tugas

Seismogram Transformer dirancang untuk deteksi, picking, polaritas, magnitudo, arah datang, dan jarak episentral.

Catatan kritis: istilah “fondasi” bukan jaminan model langsung cocok di setiap wilayah.

Li et al., IEEE TGRS (2024) ↗
2025 · LINTAS-MODAL

SeisMoLLM: mengadaptasi model bahasa untuk sinyal

Waveform diubah menjadi token dan GPT-2 disetel untuk tugas seismik. Penulis melaporkan hasil kuat pada benchmark mereka.

Catatan kritis: ini preprint arXiv; klaimnya perlu dibaca dalam konteks dataset dan evaluasinya.

Wang et al., arXiv:2502.19960 (preprint) ↗

Hati-hati membandingkan

Angka dari eksperimen berbeda tidak bisa langsung diadu: data, pemisahan train-test, ambang, dan metrik mungkin berbeda.

10Membuka kotak hitam: explainable AI

Model akurat belum tentu mudah dipercaya. Explainable AI (XAI) membantu menyelidiki mengapa model memberi prediksi tertentu, tetapi visualisasi penjelasan tidak otomatis membuktikan sebab-akibat.

Tampilkan skor di sepanjang waktu

Plot probabilitas P, S, dan derau terhadap waktu, seperti keluaran PhaseNet (Gambar 4). Mudah diperiksa mata. Batasnya: ini hasil akhir model, bukan penjelasan fitur internalnya.

Saliency dan Integrated Gradients

Mengestimasi bagian input yang paling memengaruhi skor, seperti menyorot kata kunci dalam kalimat. Peta atribusi sensitif terhadap metode dan titik acuan, jadi bandingkan beberapa metode.

Occlusion test

Tutup sebagian sinyal (misalnya jendela di sekitar onset P) lalu ukur perubahan prediksi. Jika skor runtuh saat onset ditutup, model memang bergantung pada onset.

Kasus gagal dan kalibrasi

Periksa alarm palsu, gempa terlewat, dan apakah skor keyakinan sesuai akurasi nyata. Model yang yakin namun salah lebih berbahaya daripada model yang ragu.

Jangan tertukar

Heatmap bukan bukti model memakai “alasan geologis yang benar”. Uji kestabilannya dan pastikan bukan artefak sinyal atau ciri stasiun.

11Tantangan dan arah ke depan

PERBEDAAN WILAYAH

Domain shift

Geologi, sensor, dan derau berubah antarwilayah. Uji lintas stasiun dan lokasi baru lebih meyakinkan daripada pengacakan data dari kumpulan yang sama.

KETIMPANGAN KELAS

Gempa kecil terlewat

Akurasi keseluruhan bisa tinggi sementara gempa kecil luput. Periksa precision, recall, dan analisis per kelompok.

KETIDAKPASTIAN LABEL

Analis pun berbeda

Pick pada sinyal lemah bisa berbeda antaranalis, dan model dapat mewarisi ketidakpastiannya.

DETEKSI ≠ RAMALAN

Bukan prediksi gempa

Mengenali gempa dari rekaman berbeda dari meramalkan waktu, lokasi, dan magnitudo sebelum terjadi.

Arah yang menjanjikan meliputi pembelajaran dari data tanpa label, adaptasi dengan sedikit anotasi lokal (transfer learning), benchmark lintas wilayah, dan keluaran yang menyertakan ketidakpastian. Model tetap menjadi alat bantu triase dan konsistensi, dengan validasi dan pengawasan seismolog.

∿

Computer vision mempercepat pembacaan seismogram. Keandalannya tetap bergantung pada data representatif, evaluasi ketat, penjelasan yang diuji, dan keahlian manusia.

Daftar pustaka terpilih

Jejak untuk dibaca lebih jauh.

  1. Ronneberger, O., Fischer, P., & Brox, T. (2015). U-Net: convolutional networks for biomedical image segmentation. arXiv:1505.04597.
  2. Perol, T., Gharbi, M., & Denolle, M. (2018). Convolutional neural network for earthquake detection and location. Science Advances, 4(2), e1700578. doi:10.1126/sciadv.1700578.
  3. Ross, Z. E., Meier, M.-A., Hauksson, E., & Heaton, T. H. (2018). Generalized seismic phase detection with deep learning. BSSA, 108(5A), 2894–2901. doi:10.1785/0120180080.
  4. Zhu, W. & Beroza, G. C. (2019). PhaseNet: a deep-neural-network-based seismic arrival-time picking method. Geophysical Journal International, 216(1), 261–273. doi:10.1093/gji/ggy423.
  5. Zhu, W., Mousavi, S. M., & Beroza, G. C. (2019). Seismic signal denoising and decomposition using deep neural networks. IEEE TGRS, 57(11), 9476–9488. doi:10.1109/TGRS.2019.2926772.
  6. Mousavi, S. M. et al. (2019). STanford EArthquake Dataset (STEAD). IEEE Access, 7. doi:10.1109/ACCESS.2019.2947848.
  7. Mousavi, S. M., Ellsworth, W. L., Zhu, W., Chuang, L. Y., & Beroza, G. C. (2020). Earthquake transformer. Nature Communications, 11, 3952. doi:10.1038/s41467-020-17591-w.
  8. Chai, C. et al. (2020). Using a deep neural network and transfer learning to bridge scales for seismic phase picking. Geophysical Research Letters. halaman publikasi.
  9. Lapins, S. et al. (2021). A little data goes a long way: automating seismic phase arrival picking at Nabro volcano with transfer learning. JGR: Solid Earth. halaman publikasi.
  10. Tibi, R., Hammond, P., Brogan, R., Young, C. J., & Koper, K. (2021). Deep learning denoising applied to regional distance seismic data in Utah. BSSA, 111(2), 775–790. doi:10.1785/0120200292.
  11. Yang, L., Liu, X., Zhu, W., Zhao, L., & Beroza, G. C. (2022). Toward improved urban earthquake monitoring through deep-learning-based noise suppression. Science Advances, 8(15), eabl3564. doi:10.1126/sciadv.abl3564.
  12. Münchmeyer, J. et al. (2022). Which picker fits my data? JGR: Solid Earth, 127(1). doi:10.1029/2021JB023499.
  13. Woollam, J. et al. (2022). SeisBench—a toolbox for machine learning in seismology. SRL, 93(3), 1695–1709. doi:10.1785/0220210324.
  14. Mousavi, S. M. & Beroza, G. C. (2022). Deep-learning seismology. Science, 377(6607), eabm4470. doi:10.1126/science.abm4470.
  15. Li, S. et al. (2024). SeisT: a foundational deep learning model for earthquake monitoring tasks. IEEE TGRS. doi:10.1109/TGRS.2024.3371503.
  16. Wang, X. et al. (2025). SeisMoLLM. arXiv:2502.19960. arXiv. Preprint.

Ringkasan ditulis ulang untuk tujuan edukasi. Periksa artikel asli untuk rincian eksperimen, metrik, dan keterbatasan.

Konsep riset · Program Pascasarjana Universitas Pamulang

Menjernihkan
suara bumi Indonesia

Riset tentang model deep learning untuk mengurangi derau pada rekaman gempa jaringan BMKG: seberapa baik model global bekerja di Indonesia, dan seberapa jauh transfer learning memperbaikinya.

01Konsep riset dalam satu halaman

Pertanyaan inti

Jika model denoising yang dilatih di wilayah yang relatif sunyi dipindahkan ke jaringan seismik Indonesia yang bising, seberapa besar performanya turun, dan seberapa jauh data lokal dapat memulihkannya?

MODEL GLOBALDeepDenoiserpralatih (Calif. Utara) 1 · BLIND TESTuji langsung padadata BMKG 2 · TRANSFERfine-tuning dengandata lokal BMKG 3 · EVALUASIvs model global &filter bandpass Keluaran yang dicari • Seberapa besar penurunan performa akibat perbedaan domain (transportabilitas). • Konfigurasi fine-tuning terbaik dan apakah ia mengalahkan filter konvensional. • Dampaknya pada picking P/S dan konsistensi magnitudo, bukan sekadar “gambar lebih bersih”.
GAMBAR 1Tiga tahap utama riset. Seluruhnya dikerjakan secara offline pada data rekaman yang sudah ada.
JUDUL

Evaluasi transportabilitas dan transfer learning model DeepDenoiser untuk mitigasi noise pada jaringan seismik BMKG.

STATUS

Tahap proposal. Belum ada eksperimen yang dijalankan, sehingga halaman ini menjelaskan rencana dan harapan, bukan hasil.

02Latar belakang: negeri di atas empat lempeng

Indonesia berada di pertemuan empat lempeng utama: Indo-Australia, Sunda, Filipina, dan Caroline. Interaksinya menghasilkan megathrust, sesar mendatar, sesar naik, dan zona ekstensional. Untuk memantaunya, BMKG terus menambah jaringan seismograf nasional.

BATAS LEMPENG DI SEKITAR INDONESIA90°BT100°BT110°BT120°BT130°BT140°BT10°LS0°10°LULEMPENG INDO-AUSTRALIALEMPENG SUNDALEMPENG LAUT FILIPINALEMPENG CAROLINEZONA TUMBUKAN KOMPLEKSBanda · Molucca · PapuaSUMATRAJAWAKALIMANTANPAPUASULAWESIMyanmar / ThailandPalung SundaPalung JawaPalung TimorPalung FilipinaSesar SumatraPalung subduksi (segitiga di sisi lempeng penindih)Zona tumbukan / batas kompleksSesar SumatraArah gerak relatif terhadap Sunda (perkiraan)Garis pantai disederhanakan · posisi batas perkiraan (galat puluhan km)
GAMBAR 2Peta skematis batas lempeng, digambar dari koordinat perkiraan berdasarkan model batas lempeng global PB2002 (Bird, 2003) dan sintesis tektonik regional (Hall, 2002). Segitiga menandai sisi lempeng penindih pada zona subduksi. Posisi batas dan garis pantai disederhanakan, sehingga hanya untuk ilustrasi, bukan data resmi.

Di barat dan selatan, batasnya relatif sederhana: Lempeng Indo-Australia menunjam di bawah Sunda di sepanjang Palung Sunda dan Palung Jawa. Di timur, situasinya jauh lebih rumit. Lempeng Laut Filipina, Caroline, dan Australia bertemu dengan sejumlah mikro-lempeng (Banda, Molucca, Kepala Burung, Maoke) dalam zona tumbukan kompleks, sehingga peta empat lempeng hanyalah penyederhanaan.

546stasiun seismik aktif BMKG
84stasiun di atas tanah lunak (studi HVSR)
~43%stasiun terpolusi derau antropogenik 5–10 Hz
3komponen rekaman: Z, N, E

Tiga sumber derau yang saling menumpuk

MANUSIA

Derau antropogenik

Kendaraan berat, permukiman, perkantoran, lahan pertanian, dan bandara. Dominan di frekuensi tinggi.

ALAM

Mikroseismik & cuaca

Hujan, angin, sungai, dan gelombang laut kepulauan menciptakan derau yang bervariasi musiman.

TANAH

Tanah lunak

Lapisan sedimen lunak memperkuat getaran lokal sehingga derau ikut teramplifikasi.

03Mengapa derau penting: efek berantai

Derau bukan sekadar membuat grafik berantakan. Ia merambat ke setiap langkah analisis gempa:

Derau tinggiSNR rendah pada gempa kecil
→
Picking melesetonset P/S sulit ditentukan
→
Lokasi & magnitudo biasgalat episenter dan kekuatan
→
Katalog & peringatangempa kecil terlewat, respons melambat

Filter bandpass adalah alat standar untuk mengatasinya, tetapi ia punya batas jelas ketika derau dan sinyal berada pada rentang frekuensi yang sama.

Derau laut(frekuensi rendah) Sinyal gempa mikro Derau manusia Jendela bandpass 1–10 Hz 0,1110100Frekuensi (Hz, skala logaritmik) SKEMA KONSEPTUAL · BENTUK KURVA TIDAK BERSKALA
GAMBAR 3Pada rentang yang tumpang-tindih, filter tidak bisa membedakan sinyal dari derau. Model berbasis mask bekerja pada pola waktu-frekuensi, bukan sekadar rentang frekuensi.
KETERBATASAN 1

Tak efektif saat pita frekuensi derau menimpa pita sinyal.

KETERBATASAN 2

Batas frekuensi ditentukan manual dan dicoba kasus per kasus.

KETERBATASAN 3

Berisiko mengubah bentuk gelombang dan fase jika tidak memakai penyaringan dua arah.

04Landasan teknis: DeepDenoiser dan transfer learning

Bayangkan memisahkan suara vokal dari musik dalam sebuah rekaman. DeepDenoiser melakukan hal serupa pada seismogram: memisahkan “suara” gempa dari “suara latar” derau, di bidang waktu-frekuensi (lihat tab Computer Vision in Seismology untuk penjelasan lebih dalam).

1 · Waveformrekaman 1D tiga komponen
→
2 · STFTmenjadi spektrogram 2D
→
3 · U-Netmemprediksi mask sinyal & derau
→
4 · Perkalianmask × spektrogram
→
5 · iSTFTkembali ke waveform bersih
InputMaskENCODER · memadatkan, menangkap konteksDECODER · membangun ulang detailBOTTLENECKSKIP CONNECTION menjaga detail halus (onset)
GAMBAR 4Skema U-Net. Jalur putus-putus menyalin detail dari encoder ke decoder supaya waktu tiba gelombang tidak kabur.

Transportabilitas dan domain shift

Transportabilitas adalah kemampuan model yang dilatih di satu wilayah (source domain) untuk tetap bekerja baik di wilayah lain (target domain). DeepDenoiser asli dilatih pada rekaman Northern California yang relatif tenang, sementara jaringan BMKG menghadapi kombinasi derau perkotaan, tanah sedimen lunak, dan mikroseismik kepulauan.

DOMAIN SUMBERNorthern Californiaderau relatif rendah DOMAIN TARGETJaringan BMKGderau kota, laut, tanah lunak domain shift performa bisa turun
GAMBAR 5Distribusi derau di kedua wilayah berbeda, sehingga model tidak otomatis cocok bila dipindahkan.

Transfer learning adalah jawabannya: mulai dari model yang sudah memahami bentuk dasar gelombang, lalu menyesuaikannya dengan data lokal. Seperti dokter umum yang mengambil spesialisasi, dasarnya sudah ada.

05Penelitian terkait dan celah riset

Riset ini berdiri di atas empat jalur literatur. Setiap tautan membawa ke paper atau halaman publikasi aslinya.

A. Denoising seismik dengan deep learning

2019

DeepDenoiser

Zhu, Mousavi, dan Beroza merumuskan denoising sebagai pemisahan sumber pada spektrogram dengan U-Net yang memprediksi mask sinyal dan derau. Model ini menjadi dasar riset saya.

Zhu et al., IEEE TGRS (2019) ↗ · arXiv:1811.02695 ↗
2021

Denoising pada data regional di Utah

Tibi dkk. menguji denoising deep learning pada jarak regional dan menyoroti bahwa performa terkait erat dengan karakter data latih. Ini rujukan utama masalah transportabilitas.

Tibi et al., BSSA (2021) ↗
2022

Denoising untuk pemantauan gempa perkotaan

Yang dkk. menyesuaikan pendekatan denoising pada lingkungan kota yang bising dan melaporkan manfaatnya bagi pemantauan gempa. Relevan karena banyak stasiun BMKG dekat aktivitas manusia.

Yang et al., Science Advances (2022) ↗
Studi lokal

DAE-GAN berarsitektur U-Net untuk sinyal seismik

Contoh minat komunitas riset Indonesia pada denoising berbasis U-Net. Perlu dibaca langsung untuk melihat data dan evaluasinya.

Hybrid DAE-GAN Model with U-Net Architecture for Seismic Signal Denoising (Prosiding SNF UNJ) ↗

B. Deteksi dan phase picking

2019

PhaseNet

U-Net untuk picking P dan S. Dipakai di proposal sebagai picker otomatis untuk menguji apakah denoising memperbaiki akurasi picking.

Zhu & Beroza, GJI (2019) ↗
2020

EQTransformer

Deteksi dan picking dalam satu model berbasis attention.

Mousavi et al., Nature Communications (2020) ↗
2022

Benchmark dan perangkat

Perbandingan banyak picker pada beragam dataset, serta toolbox terbuka untuk memuat, melatih, dan membandingkan model.

Münchmeyer et al., JGR (2022) ↗ · Woollam et al., SeisBench (2022) ↗ · arXiv:2111.00786 ↗

C. Transfer learning dan adaptasi wilayah

2014

Seberapa transferable fitur jaringan saraf?

Yosinski dkk. menunjukkan lapisan awal cenderung bersifat umum sedangkan lapisan akhir spesifik tugas. Ini dasar logika Skema A (encoder dibekukan) dan Skema B (semua dilatih).

Yosinski et al., arXiv:1411.1792 ↗
2020

Transfer learning untuk picking lintas skala

Chai dkk. memakai transfer learning agar picker dapat menjembatani skala yang berbeda.

Chai et al., GRL (2020) ↗
2021

Sedikit data lokal bisa cukup

Lapins dkk. menyetel picker pada gunung api Nabro dengan transfer learning dan data lokal terbatas, mendukung gagasan bahwa fine-tuning bisa efisien.

Lapins et al., JGR (2021) ↗

D. Data, konteks, dan jaringan BMKG

2019

STEAD

Dataset global berlabel yang banyak dipakai melatih model seismologi.

Mousavi et al., IEEE Access (2019) ↗
2021

Seismisitas Indonesia & karakterisasi stasiun BMKG

Hutchings dan Mooney merangkum seismisitas dan implikasi tektonik Indonesia. Muzli dkk. mengkarakterisasi stasiun BMKG dengan analisis HVSR.

Hutchings & Mooney, G-Cubed (2021) ↗ · Muzli et al., IOP Conf. Ser. (2021) ↗

Celah riset

Belum ada evaluasi sistematis transportabilitas DeepDenoiser pada jaringan BMKG, dan belum diketahui konfigurasi transfer learning terbaik untuk derau Indonesia.

06Metode

Desain penelitian

Studi eksperimental kuantitatif. Variabel bebas: status bobot model (pralatih global atau hasil fine-tuning lokal) dan metode pembanding (bandpass). Variabel terikat: kualitas mitigasi derau pada rekaman BMKG.

Data

Waveform sekunder tiga komponen (Z, N, E) berformat miniSEED dari stasiun permanen BMKG di Pulau Jawa, diakses jarak jauh. Rekaman dikurasi dari tiga lingkungan agar variasi derau terwakili, masing-masing dipotong sekitar 60 detik berisi jendela derau dan jendela sinyal gempa.

URBAN

Perkotaan

Didominasi derau antropogenik frekuensi tinggi.

PESISIR

Pesisir & pulau kecil

Didominasi mikroseismik frekuensi rendah dari gelombang laut.

PEDALAMAN

Dekat gunung api

Dipengaruhi aktivitas geothermal atau kondisi alami yang lebih tenang.

Data 70% · Pelatihanmemperbarui bobot U-Net saat transfer learning 10% · Validasimemantau overfitting selama pelatihan ulang 20% · Uji independendata steril untuk evaluasi sebelum dan sesudah fine-tuning
GAMBAR 6Pembagian data 70/10/20 sesuai rencana. Data uji tidak boleh disentuh selama pelatihan.

Catatan metodologi

Pembagian acak per rekaman dapat membuat rekaman dari stasiun yang sama muncul di data latih dan uji. Untuk menguji transportabilitas sebenarnya, pertimbangkan juga pembagian per stasiun atau per wilayah.

Dari mana “sinyal bersih” sebagai acuan?

Rekaman nyata tidak punya versi bersih sebagai kunci jawaban. Praktik umum pada riset denoising, termasuk DeepDenoiser, adalah menumpuk sinyal gempa ber-SNR tinggi dengan cuplikan derau menjadi data campuran sintetis, sehingga sinyal asli menjadi acuan. Pada rekaman nyata, evaluasi bergantung pada metrik tidak langsung seperti hasil picking dan konsistensi magnitudo.

Pembanding: filter bandpass Butterworth

Butterworth orde 4 dengan passband 1–10 Hz, diterapkan dua arah (zero-phase) agar waktu tiba dan polaritas awal tidak bergeser.

Skema transfer learning

Uji langsung tanpa melatih ulang

Model global diuji pada data uji BMKG tanpa mengubah bobot. Hasilnya menjadi batas bawah (baseline) untuk mengukur transportabilitas.

Hanya decoder yang dilatih ulang

Encoder dikunci karena pola dasar gelombang dianggap sudah tergeneralisasi. Hanya decoder yang menyesuaikan diri dengan derau lokal. Murah dan stabil, tetapi fleksibilitasnya terbatas.

Seluruh lapisan dilatih dengan laju belajar sangat kecil

Semua lapisan disetel ulang dengan learning rate rendah (rencana 10-5) agar fitur bawaan tidak rusak (catastrophic forgetting). Lebih fleksibel, tetapi butuh data dan kehati-hatian lebih besar.

PARAMETER PELATIHAN (RENCANA)

Loss: kombinasi MSE dan Binary Cross-Entropy · Optimizer: Adam dengan weight decay · Learning rate 10-5 (full fine-tuning) dengan ReduceLROnPlateau · Batch 32 atau 64.

ALUR PEMROSESAN

Detrend dan demean → normalisasi → STFT → prediksi mask → perkalian → iSTFT. Implementasi dengan PyTorch atau TensorFlow, ObsPy untuk data miniSEED.

Metrik evaluasi

ΔSNR

Peningkatan rasio sinyal-derau

Seberapa jauh sinyal “naik” dibanding derau.

CC

Koefisien korelasi

Kemiripan bentuk gelombang dengan acuan. Mendekati 1 berarti bentuk terjaga.

RMSE

Galat amplitudo

Deviasi antara prediksi dan acuan.

SDR

Signal-to-Distortion Ratio

Seberapa kecil distorsi yang ditimbulkan denoising.

PICKING ERROR

Residu waktu tiba P & S

Rekaman sebelum dan sesudah denoising dijalankan melalui picker otomatis (mis. PhaseNet), lalu dibandingkan dengan pick analis BMKG.

MAGNITUDO

Konsistensi amplitudo

Memastikan amplitudo tidak terpangkas berlebihan, karena dapat membuat magnitudo diremehkan.

Signifikansi perbaikan diuji secara statistik, misalnya dengan paired t-test atau uji Wilcoxon.

07Hasil yang diharapkan

Karena penelitian belum dijalankan, berikut ekspektasi yang akan diuji, bukan klaim hasil. Hipotesis ditetapkan lebih dulu agar penilaian tidak mengikuti data.

H₁

Model pralatih global menunjukkan performa kurang optimal (transportabilitas rendah) pada data BMKG akibat domain shift.

H₂

Transfer learning dengan data lokal meningkatkan performa secara signifikan dibanding model global (galat turun, SNR dan korelasi naik).

Gambaran hasil yang mungkin terjadi

SKENARIO 1 · H₁ & H₂ TERDUKUNG

Model global turun di stasiun bising, fine-tuning memulihkannya. Temuan ini mendukung adaptasi lokal sebagai praktik standar bagi jaringan baru.

SKENARIO 2 · MODEL GLOBAL SUDAH CUKUP

Penurunan kecil di beberapa tipe stasiun. Temuannya tetap berharga: menunjukkan di mana adaptasi tidak diperlukan dan menghemat biaya.

SKENARIO 3 · SKEMA A ≈ SKEMA B

Frozen encoder hampir sebaik full fine-tuning. Artinya adaptasi murah sudah memadai.

SKENARIO 4 · SKEMA B LEBIH BAIK

Full fine-tuning unggul, terutama pada stasiun pesisir atau perkotaan yang derau lokalnya sangat berbeda.

Keempat skenario bernilai ilmiah, karena riset ini menjawab seberapa besar dan di mana adaptasi perlu, bukan hanya membuktikan satu arah.

Luaran yang direncanakan

MODEL

DeepDenoiser terlokalisasi

Bobot hasil fine-tuning untuk derau jaringan BMKG di Jawa.

BENCHMARK

Evaluasi transportabilitas

Perbandingan model global, model lokal, dan bandpass per tipe stasiun.

REKOMENDASI

Untuk operasional

Panduan kapan denoising layak dipakai, dan risikonya bagi amplitudo dan magnitudo.

08Risiko, keterbatasan, dan etika

ACUAN TIDAK LANGSUNG

Tanpa kunci jawaban nyata

Evaluasi pada rekaman nyata bersifat tidak langsung. Mitigasi: kombinasi data campuran sintetis dan uji picking terhadap analis.

KEBOCORAN DATA

Stasiun yang sama di latih dan uji

Mitigasi: tambahkan pembagian per stasiun atau per wilayah.

ARTEFAK AMPLITUDO

Sinyal terpotong

Denoising dapat menekan amplitudo dan membiaskan magnitudo. Mitigasi: metrik konsistensi magnitudo.

CAKUPAN

Hanya Pulau Jawa

Hasil belum tentu berlaku untuk Sumatra, Sulawesi, atau Papua. Dinyatakan sebagai batasan.

KOMPUTASI

Waktu dan sumber daya

Fine-tuning butuh GPU. Mitigasi: batch kecil, mulai dari subset.

DATA & ETIKA

Akses dan izin data

Data BMKG dipakai sesuai izin akses dan kebijakan instansi, dengan atribusi yang jelas.

Batas klaim

Riset ini tentang membersihkan rekaman, bukan memprediksi gempa. Model tidak menggantikan analis, melainkan membantu mereka.

09Rencana kerja

  1. 01
    Studi pustaka & pengumpulan data

    Menyusun bobot model global dan mengurasi waveform miniSEED BMKG.

  2. 02
    Pra-pemrosesan

    Detrend, demean, normalisasi, lalu STFT.

  3. 03
    Blind test

    Menguji model global pada data uji tanpa mengubah bobot.

  4. 04
    Transfer learning

    Skema A (frozen encoder) dan Skema B (full fine-tuning).

  5. 05
    Evaluasi & analisis statistik

    Membandingkan metrik dan menguji signifikansi, termasuk terhadap bandpass.

Jadwal indikatif. Visual berikut adalah rancangan perkiraan.

Kegiatan
Agu
Sep
Okt
Nov
Des
Jan
Persiapan & studi pustaka
Data BMKG & pra-pemrosesan
Blind test baseline
Transfer learning (A & B)
Evaluasi & analisis statistik
Penulisan laporan

10Kontribusi dan dampak

ILMIAH

Bukti empiris tentang transportabilitas model denoising lintas wilayah tektonik, khususnya untuk wilayah kepulauan tropis yang jarang diuji di literatur.

OPERASIONAL

Rekomendasi bagi BMKG untuk meningkatkan sensitivitas deteksi gempa mikro, memperbaiki otomatisasi phase picking, dan mengurangi galat lokasi episenter, sehingga mendukung InaTEWS.

∿

Tujuan akhirnya sederhana: rekaman yang lebih jernih, sehingga keputusan tentang gempa lebih cepat dan lebih dapat dipercaya.

Daftar pustaka

Rujukan riset ini.

  1. Zhu, W., Mousavi, S. M., & Beroza, G. C. (2019). Seismic signal denoising and decomposition using deep neural networks. IEEE TGRS, 57(11), 9476–9488. doi:10.1109/TGRS.2019.2926772 · arXiv.
  2. Tibi, R., Hammond, P., Brogan, R., Young, C. J., & Koper, K. (2021). Deep learning denoising applied to regional distance seismic data in Utah. BSSA, 111(2), 775–790. doi:10.1785/0120200292.
  3. Yang, L., Liu, X., Zhu, W., Zhao, L., & Beroza, G. C. (2022). Toward improved urban earthquake monitoring through deep-learning-based noise suppression. Science Advances, 8(15), eabl3564. doi:10.1126/sciadv.abl3564.
  4. Zhu, W. & Beroza, G. C. (2019). PhaseNet. Geophysical Journal International, 216(1), 261–273. doi:10.1093/gji/ggy423.
  5. Mousavi, S. M. et al. (2020). Earthquake transformer. Nature Communications, 11, 3952. doi:10.1038/s41467-020-17591-w.
  6. Münchmeyer, J. et al. (2022). Which picker fits my data? JGR: Solid Earth, 127(1). doi:10.1029/2021JB023499.
  7. Woollam, J. et al. (2022). SeisBench—a toolbox for machine learning in seismology. SRL, 93(3), 1695–1709. doi:10.1785/0220210324 · arXiv.
  8. Yosinski, J., Clune, J., Bengio, Y., & Lipson, H. (2014). How transferable are features in deep neural networks? arXiv:1411.1792.
  9. Chai, C. et al. (2020). Using a deep neural network and transfer learning to bridge scales for seismic phase picking. GRL. halaman publikasi.
  10. Lapins, S. et al. (2021). A little data goes a long way: automating seismic phase arrival picking at Nabro volcano with transfer learning. JGR: Solid Earth. halaman publikasi.
  11. Mousavi, S. M. et al. (2019). STanford EArthquake Dataset (STEAD). IEEE Access, 7. doi:10.1109/ACCESS.2019.2947848.
  12. Ronneberger, O., Fischer, P., & Brox, T. (2015). U-Net. arXiv:1505.04597.
  13. Bird, P. (2003). An updated digital model of plate boundaries. Geochemistry, Geophysics, Geosystems, 4(3), 1027. doi:10.1029/2001GC000252 · EarthRef.
  14. Hall, R. (2002). Cenozoic geological and plate tectonic evolution of SE Asia and the SW Pacific. Journal of Asian Earth Sciences, 20(4), 353–431. doi:10.1016/S1367-9120(01)00069-4.
  15. Hutchings, S. J. & Mooney, W. D. (2021). The seismicity of Indonesia and tectonic implications. Geochemistry, Geophysics, Geosystems, 22(9), e2021GC009812. doi:10.1029/2021GC009812.
  16. Muzli, M. et al. (2021). Site characterizations of BMKG seismic network, Indonesia, based on HVSR analysis. IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci., 873, 012025. doi:10.1088/1755-1315/873/1/012025.
  17. Rahman, A. S., Makhdafa, E., Habibah, N. F., & Widjayanti, R. Y. (2024). Analisis tingkat kebisingan seismogram akibat variasi musiman menggunakan power spectral density. Buletin Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, 4(1), 1–10.
  18. Yusuf, M., Yohanes, T., & Ricko, K. (2016). Evaluasi kualitas stasiun seismograph berdasarkan analisis spektrum pada jaringan seismograph INATEWS.

Ringkasan ditulis ulang untuk tujuan edukasi. Periksa artikel asli untuk rincian eksperimen, metrik, dan keterbatasan.

Diskusi

Komentar pembaca

-TOTAL VIEW BLOG
Masuk dengan Google atau isi nama sendiri.

0 komentar